Perbedaan nilai

Saat aku masih naif dulu, aku selalu berpikir bagaimana bisa manusia sangat suka untuk terus saling melukai satu sama lain, menyakiti satu sama lain sampai yang satu benar-benar terluka dan kalah, saling membenci tidak ada hentinya? Bukankah kita semua tahu bahwa kebencian hanya akan menghasilkan kebencian yang baru? Hati yang terluka hanya akan menghasilkan ketidakpuasan yang berujung pada dendam dan kerusakan? Lalu mengapa masih banyak orang yang mengulanginya lagi dan lagi, tidak belajar dari yang telah lalu? Bukankah semua manusia menginginkan kedamaian?

Lalu mengapa mereka tidak berfokus pada kebaikan? Malah justru terus saling mengorek keburukan satu sama lain? Continue reading

Advertisements

Dunia yang penuh luka

Dunia ini penuh dengan luka. Luka yang umumnya tumbuh saat masih anak-anak dan remaja, tidak segera diobati namun dibiarkan begitu saja. Tidak sadar luka itulah penyebab tidak warasnya akal sehat mereka di waktu dewasa.

Luka yang didapat saat melihat ayahnya kabur dari tanggung jawabnya, luka yang didapat saat mendapatkan kekerasan dalam keluarganya, trauma yang diperoleh saat harus dipisahkan dari keluarganya entah karena perang atau masalah ekonomi. Luka yang diperoleh seorang anak karena lingkungan yang tidak mendukungnya dan malah mencibirnya. Luka yang diperoleh seorang anak karena sumber kebahagiannya dirampas secara paksa oleh takdir dan ketidakadilan… dan banyak lagi penyebabnya…

Continue reading

Cara bahagia

Cara untuk hidup bahagia,

“become present”, “live in the moment”

Jangan kau hidup dalam masa lalu, terjebak dengan nostalgia dan penyesalan, seolah saat ini adalah ganjaran yang kamu peroleh dari masa lalu. Bertanya-tanya bagaimana caranya mengembalikan waktu, seakan masa lalu mu terus saja memanggilmu, tidak rela kamu meninggalkannya.

Continue reading

Kaum tengah

Bagaikan dua sisi

Seseorang yang telah jauh dari agamanya, memilih agnostik sebagai pedomannya, atau mereka yang terjebak dalam identitas lgbt nya, atau mereka yang tattoan dan berpakaian terbuka, yang nilai hidup mereka tidak selaras dengan lingkungannya. Terlalu liberal dan terlalu bebas kata orang. Seakan mereka sedang menebar paham yang akan merusak generasi selanjutnya. Memiliki kesempatan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri tidak disia-siakannya, karena hidup di negeri sendiri terlalu banyak tantangannya. Tidak mau menjadi munafik dan menyakiti hati mamanya katanya.

Continue reading