Perbedaan nilai

Saat aku masih naif dulu, aku selalu berpikir bagaimana bisa manusia sangat suka untuk terus saling melukai satu sama lain, menyakiti satu sama lain sampai yang satu benar-benar terluka dan kalah, saling membenci tidak ada hentinya? Bukankah kita semua tahu bahwa kebencian hanya akan menghasilkan kebencian yang baru? Hati yang terluka hanya akan menghasilkan ketidakpuasan yang berujung pada dendam dan kerusakan? Lalu mengapa masih banyak orang yang mengulanginya lagi dan lagi, tidak belajar dari yang telah lalu? Bukankah semua manusia menginginkan kedamaian?

Lalu mengapa mereka tidak berfokus pada kebaikan? Malah justru terus saling mengorek keburukan satu sama lain? Continue reading

Advertisements

Pilkada dki panggung sirkus

Postingan ini bukan untuk yang gampang baper ;p

 

Di pilkada kemarin aku melihat suatu ketidakadilan. Aku melihat bagaimana Bun* Y malah dianggap sebagai penghasut SARA, penyebab/pemicu rusaknya keutuhan dan kerukunan bangsa Indonesia. Orang-orang beramai-ramai mengada-ngada kesalahannya hingga dia dianggap telah melanggar Undang-undang ITE karena menyebarkan video kebencian. Padahal dia hanya menunjukkan bahwa telah terjadi kemungkaran di suatu tempat dan memberitahukannya pada masyarakat.

Continue reading

Menjadi Islam minoritas di negeri penuh teror

Belakangan ini sering terdengar negara-negara di eropa terkena aksi terorisme hampir setiap bulan. Sebagai salah satu negara yang banyak menerima imigran dari negara konflik, tentu hal ini amat disayangkan, apakah ini konspirasi? Apakah ini propaganda untuk membenci imigran muslim dan agama islam khususnya? Apakah mungkin negara mereka melakukan kesepakatan yang merugikan kelompok radikal tersebut sehingga layak diteror? sepertinya begitu… Continue reading

Kaum tengah

Bagaikan dua sisi

Seseorang yang telah jauh dari agamanya, memilih agnostik sebagai pedomannya, atau mereka yang terjebak dalam identitas lgbt nya, atau mereka yang tattoan dan berpakaian terbuka, yang nilai hidup mereka tidak selaras dengan lingkungannya. Terlalu liberal dan terlalu bebas kata orang. Seakan mereka sedang menebar paham yang akan merusak generasi selanjutnya. Memiliki kesempatan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri tidak disia-siakannya, karena hidup di negeri sendiri terlalu banyak tantangannya. Tidak mau menjadi munafik dan menyakiti hati mamanya katanya.

Continue reading