Wanita yang tidak mau bercerai

Ketika wanita tidak mau bercerai

Bukan karena rasa cinta yang masih ada, bukan karena anak-anak yang kelak akan kehilangan ayahnya, bukan, bukan karena itu, bukan pula karena masalah ekonomi, bukan pula karena masalah agama,…

Jika semua itu bukan masalah, lalu apalagi masalahnya?

Istri yang tidak tahu kapan harus menyerah. Mengetahui suaminya berselingkuh, lalu di hadapannya sang suami memohon memelas-melas untuk minta bercerai karena lebih memilih selingkuhannya. Namun bagi sang istri, perceraian bukan pilihan. Perceraian adalah pertanda telah gagalnya diri mereka menjalankan bahtera rumah tangganya. Dan kegagalan yang berakhir dengan perceraian adalah suatu hal yang memalukan dan menghinakan untuk mereka.

Dihadapkan oleh kenyataan kalau mereka telah gagal berumah tangga dan menjadi janda, dan dihadapkan oleh kenyataan betapa hinanya martabat mereka di depan masyarakat, mereka tidak tahan, dan mereka lebih memilih mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur tersebut bagaimanapun caranya.

Miris

(tapi siapa aku yang belum pernah merasakan seperti apa rumah tangga itu sebenarnya…)

Mereka menyakiti diri mereka satu sama lain menciptakan energi negatif yang melukai orang-orang di sekitarnya. Iya,  sang istri adalah korban dari suaminya. Iya, sang istri adalah korban dari dirinya sendiri.

Sang istri menghabiskan sebagian energinya untuk bersabar dan berharap suaminya berubah dan bertaubat, terus bersabar… tanpa berpikir jika energi yang dia habiskan tersebut bisa dia alihkan untuk hal-hal yang bisa membahagiakan hidupnya dan orang-orang kesayangannya.

Sang istri berkata dia optimis dan bersabar, padahal dia hanya egois dengan harga dirinya. Egois mempertahankan status yang menjurus pada kerusakan bagi dirinya dan orang di sekitarnya…disebabkan oleh kesabarannya yang palsu.

Dia pun merusak hidup suaminya yang berputus asa meminta perceraian karena tahu pernikahan mereka tidak dapat diselamatkan. Dia merusak hidup suaminya berharap sang suami tahu bagaimana sang suami telah merusak hidupnya. Dan mereka berdua pun hidup dalam kesedihan dan keheningan, menghabiskan sisa hidupnya tanpa berpikir untuk mencicipi kembali seperti apa rasanya kebahagiaan.

Advertisements