Kaum tengah

Bagaikan dua sisi

Seseorang yang telah jauh dari agamanya, memilih agnostik sebagai pedomannya, atau mereka yang terjebak dalam identitas lgbt nya, atau mereka yang tattoan dan berpakaian terbuka, yang nilai hidup mereka tidak selaras dengan lingkungannya. Terlalu liberal dan terlalu bebas kata orang. Seakan mereka sedang menebar paham yang akan merusak generasi selanjutnya. Memiliki kesempatan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri tidak disia-siakannya, karena hidup di negeri sendiri terlalu banyak tantangannya. Tidak mau menjadi munafik dan menyakiti hati mamanya katanya.

Di sisi lain, seseorang yang hidup untuk agamanya karena itu adalah makna hidupnya. Dengan sifat perfeksionisnya ingin menyempurnakan agamanya, murni mengikuti Al Quran dan Sunnah katanya. Melihat masyarakat berselisihan dengan nilai-nilai yang dia pegang, sedih hatinya. Melihat masyarakat takut padanya dan menyinyirnya, maka semakin terpinggirlah keberadaannya.

Di negara yang sangat majemuk, di keadaan dimana menjalin suatu harmoni adalah suatu keharusan, di lingkungan yang kental akan nilai-nilai budaya dan keagamaan, di lingkungan di mana nilai-nilai sosial dipertaruhkan, dari situ orang-orang belajar membangun norma-norma kehidupannya masing-masing.

Bagaikan dua sumbu yang bertolakan, sangat sulit dicari harmoninya.

Seakan dunia ini, seakan negara ini, hanya diciptakan untuk kaum tengah semata.

Ya. Kaum tengah.

Entah mereka yang termasuk golongan yang memegang norma namun cukup toleran dan berpikiran terbuka
atau entah mereka yang memutuskan untuk hidup begitu-begitu saja
.
.
Rasanya tidak ada tempat untuk mereka yang terus menyempurnakan dirinya. Menyempurnakan dirinya semakin dekat dengan agamanya. Atau menyempurnakan dirinya menjadi pribadi sempurna impiannya.

Seakan jika ingin cari aman, hiduplah biasa-biasa saja, ber-Islamlah yang biasa-biasa saja, seakan menjadi sempurna bukanlah tujuan mulia.

Seakan jika ingin diterima, jadilah normal kata mereka, jadilah normal layaknya manusia pada umumnya yang terlahir dengan kodratnya, yang hidup tahu batasnya, batas yang dibuat oleh norma mereka tentunya.

Advertisements