Mempertanyakan rasa kemanusiaan

Saat tahta dan kekuasaan ditawarkan di hadapanmu, dan rasa kemanusiaanmu adalah penghalangnya. Apa yang akan kamu lakukan? Membuang perasaanmu?

Saat tahta dan kekuasaan membuatmu melupakan dan menghilangkan rasa kemanusiaanmu itu, lalu masih layakkah kau disebut sebagai manusia?

Manusia tanpa perasaan, mendorong akal dan pikirannya untuk menghalalkan berbagai cara demi tercapainya tujuan mereka yang katanya “mulia”. Ya, mulia menurut mereka karena mereka berpikir bahwa diri mereka adalah Tuhan.

Semua yang tidak sevisi dengan mereka tidak layak untuk hidup, dan semua yang berteman dan berlindung dalam golongan tersebut sama tidak layaknya untuk hidup.

Mereka ingin me-reset suatu peradaban dikarenakan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, menyetel ulang suatu peradaban agar sesuai dengan apa yang mereka visikan. Visi yang kata mereka membentuk peradaban impian yang stabil dan aman tanpa peperangan.

Tidak mau repot, untuk mereset ulang suatu peradaban, cukup musnahkan saja peradaban itu karena “aku Tuhan” kata mereka. “Aku tahu apa yang terbaik untuk umatku” dan “Aku bebas melakukan apapun yang aku mau” “Cukup percayalah dengan segala keputusanku”.

Manusia-manusia yang tidak lolos seleksiku. Manusia yang tidak memenuhi standarku, maka mereka hanyalah manusia cacat yang layak untuk dimusnahkan. Sebelum mereka berkembang biak melahirkan keturunan yang cacat seperti pedahulunya dan membuat kegaduhan, mereka semua layak untuk dimusnahkan.

Menjijikkan

Mengatakan tidak ada cara lain selain pemusnahan massal, mengatakan mereka tidak tahu menahu dengan pemusnahan massal yang mereka sendiri telah lakukan.

Licik dan sangat pintar

Amat berat untuk mengakui ternyata banyak sekali manusia-manusia di luar sana yang memiliki visi yang sama seperti Tuhan jadi-jadian ini. Manusia-manusia tersebut mendukung sang rezim yang tak berperikemanusiaan ini entah karena melihat visi yang sama atau entah mereka hanya menjilatnya demi keuntungan semata.

Toh, hidup ini hanya satu kali, terlalu sayang  dihabiskan untuk memikirkan kehidupan orang lain, kata mereka.

Advertisements